RSS

ACARA 3: DAMPAK HUJAN ASAM TERHADAP PERKECAMBAHAN TANAMAN BUDIDAYA

12 May

I. TUJUAN

1. Mengetahui pengaruh lingkungan Ph rendah terhadap perkecambahan tanaman budidaya.
2. Mengetahui perbedaan tanggapan perkecambahan beberapa tanaman budidaya pada kondisi asam.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya, pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran udara mempunyai beberapa komponen pokok untuk bisa disebut pencemaran, yaitu : 1. Lingkungan yang terkena adalah lingkungan hidup manusia, 2. Yang terkena dampak adalah manusia, 3. Dalam lingkungan tersebut terdapat beberapa bahaya yang juga disebabkan oleh aktifitas manusia. Dari ketiga komponen pokok inilah maka konsep pencemaran hidup akan berbunyi “Pencemaran akan terjadi apabila dalam lingkungan hidup manusia (baik lingkungan fisik, biologis, dan lingkungan sosialnya) terdapat suatu bahan dalam kondisi/konsentrasi sedemikian besar, yang dihasilkan oleh proses aktifitas manusia sendiri, yang akhirnya merugikan ekosistem manusia juga. Bahan yang disebutkan di atas, kemudian dikenal sebagai bahan pencemar atau polutan, sedangkan pencemarannya sendiri dinamakan sebagai proses polusi/polutan (Amsyari, 1981).
Kemajuan teknologi yang sangat pesat belakangan ini menyebabkan terjadinya peningkatan taraf kehidupan manusia. Namun pesatnya perkembangan industri serta transportasi memberikan dampak negatif berupa peningkatan konsentrasi polutan di udara. Peningkatan kadar polutan akan menimbulkan berbagai dampak terhadap manusia serta ekosistem lingkungannya. Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh zat-zat polutan adalah tejadinya hujan asam (Nazarudin, 2010).
Hujan asam merupakan hujan dengan pH kurang dari 5,6. Ini disebabkan oleh gas pencemar sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar minyak dan batubara (Cahyo, 1998).
Hujan asam merupakan salah satu bentuk deposisi asam. Deposisi asam adalah proses kembalinya polutan berupa asam-asam (terutama sulfat dan nitrat) dari udara ke bumi. Deposisi asam dapat dibedakan menjadi deposisi basah dan deposisi kering. Hujan asam adalah salah satu bentuk dari deposisi basah. Sumber utama deposisi asam berasal dari sumber anthropogenik yaitu SO2 dan nitrogen oksida (NOx). Keduanya merupakan polutan yang dihasilkan dari proses industri dan transportasi. SO2 dan NOx akan mengalami reaksi dengan H2O di armosfer membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) yang bersifat asam kuat (Hara, 2009).
Nitrogen oksida yang terjadi ketika panas pembakaran menyebabkan bersatunya oksigen dan nitrogen yang terdapat di udara memberikan berbagai ancaman bahaya. Zat nitrogen oksida ini sendiri menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air yang tidak terbakar dan zat-zat hidrokarbon lain di sinar matahri dan membentuk ozon rendah atau smog, kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia (Satriyo, 2008).
Emisi sulfur dioksida (SO2) terutama timbul dari pembakaran bahan bahar fosil yang mengandung sulfur terutama batu bara yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanasan rumah tangga. Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asma dan karena gas ini menetap di udara, bereaksi dan membentuk pertikel-partikel halus dan zat asam (Gillet et al., 2005).
Hujan asam memacu proses pencucian hara dan tajuk tumbuhan dan tanah hutan dan merubah laju mineralisasi tanah hujan baik secara fisik maupun hayati. Pengaruh lain adalah konsentrasi proton dalam larutan tanah sampai suatu keadaan dimana ion-ion hara tidak berada pada konsentrasi yang efektif untuk diserap akar tumbuhan. Selain itu, hujan asam dapat merubah proses yang terjadi dalam siklus hara melalui pengaruh terhadap aktifitas mikroba dalam tanah. Suksesi dapat terjadi diantara mikroba tanah. Diperkirakan tanah hutan paling mudah rusak dibandingkan tanah pertanian. Tanah hutan yang semua didukung oleh regresi dini setelah panen atau peristiwa alam mungkin sangat peka terhadap pengaruh negatif akibat perubahan atau gangguan dalam siklus hara (Kennedi, 1986).

III. METODOLOGI

Praktikum Dasar-dasar Ekologi acara 3, Dampak Hujan Asam Terhadap Perkecambahan Tanaman Budidaya, di laksanakan pada hari Senin, 4 April 2011 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan yaitu: biji/benih tanaman padi (Oryza sativa), kacang tanah (Arachys hypogaea), jagung (Zea mays), serta H2SO4, aquades, dan kertas filter. Peralatan yang digunakan yaitu: petridish sebagai wadah, sprayer plastik, gelas ukur, erlenmeyer, pipet, dan pH tester.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu larutan asam dibuat dengan menggunakan aquades sebanyak 500 ml yang ditetesi dengan H2SO4 sampai mencapai keasaman tertentu (pH 4, pH 5, dan pH 6). Banyaknya larutan H2SO4 yang digunakan dicatat untuk mempermudah pembuatan larutan selanjutnya. Kemudian masing-masing larutan dengan kadar asam yang berbeda tersebut dimasukkan ke dalam sprayer plastik yang berlainan yang telah ditempeli label. Setelah itu, 12 petridish disiapkan untuk 4 perlakuan keasaman dan 3 jenis tanaman budidaya. Biji yang telah disiapkan diatur ke dalam cawan petridish yang telah dilapisi dengan kertas filter. Masing-masing pertidish untuk 10 benih tanaman. Benih yang telah diatur di dalam petridish disiram setiap hari dengan larutan dari sprayer sesuai pelakuan dengan jumlah semprotan yang sama untuk tiap-tiap petridish. Pengamatan dilakukan selama 7 hari meliputi jumlah biji berkecambah, rasio akar/batang, dan indeks vigor. Untuk gaya berkecambah, dihitung menggunakan rumus:

 biji yang berkecambah
 biji yang dikecambahkan

Sedangkan untuk indeks vigor, dihitung menggunakan rumus:

 biji yang berkecambah hari ke-n
hari ke-n

Untuk rasio akar/batang dihitung menggunakan rumus:

Panjang akar
Panjang batang

Kemudian yang terakhir dibuat histogram rasio akar/batang padi, jagung, dan kacang tanah dengan perlakuan pH 4, pH 5, pH 6, dan pH 7. Serta dibuat grafik panjang akar, panjang batanh, indeks vigor, dan gaya berkecambah dalam berbagai perlakuan (pH 4, pH 5, pH 6, dan pH 7).

IV. HASIL PENGAMATAN

1. Tabel Banyaknya Biji yang Berkecambah
a. Padi
Jumlah Biji yang Berkecambah Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 1 5,5 7,667 8,833 9,333 9,5
pH 5 0 3,2 7 9,2 9,8 10 10
pH 6 0 4 7,2 8,6 9,2 9,6 9,8
pH 7 0 7,8 9,2 9,6 9,8 9,8 9,8

b. Jagung
Jumlah Biji yang Berkecambah Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 3,4 6,8 8,2 9 9,2 9,2
pH 5 1 5,4 8,4 9,2 9,8 10 10
pH 6 0,4 5,667 7,5 8,8 9 9,2 9,2
pH 7 2 7,2 9,2 9,4 10 10 10

c. Kacang Tanah
Jumlah Biji yang Berkecambah Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 3,6 5,4 6,8 9,2 9,4 9,4
pH 5 1,667 5,167 7,167 8,5 8,833 8,833 8,833
pH 6 1 5,333 7,833 8,667 9,667 9,833 9,833
pH 7 0 6,5 8,833 9,333 9,667 9,667 9,667

2. Tabel Panjang Akar
a. Padi
Panjang Akar Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 0,158 1,21 1,862 2,384 3,666 4,504
pH 5 0 0,14 1,118 2,048 2,492 3,613 4,546
pH 6 0 0,454 1,714 2,7 3,77 4,605 5,162
pH 7 0 0,534 1,826 2,552 3,248 3,86 4,314

b. Jagung
Panjang Akar Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0,1 1,238 2,642 4,208 4,958 7,02 8,748
pH 5 0,06 1,133 2,324 3,166 4,142 5,228 6,4
pH 6 0,226 1,444 3,096 5,092 6,746 7,948 9,326
pH 7 0,15 1,188 4,698 6,792 7,974 9,1 10,49

c. Kacang Tanah
Panjang Akar Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 0,768 2,124 2,906 3,514 4,812 5,522
pH 5 0,132 0,87 1,553 2,675 3,665 4,502 5,626
pH 6 0 0,904 2,168 3,312 4,147 5,075 5,978
pH 7 0 0,866 2,697 2,764 4,332 5,086 6,262

3. Tabel Panjang Batang
a. Padi
Panjang Batang Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 0,09 0,406 0,85 1,94 3,596 4,75
pH 5 0 0,146 0,658 1,758 3,077 3,828 4,73
pH 6 0 0,234 1,153 1,676 3,187 3,962 4,786
pH 7 0 0,196 1,262 2,355 2,934 4,277 5,164

b. Jagung
Panjang Batang Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0,074 0,594 1,318 1,668 2,434 3,55 4,88
pH 5 0,04 0,863 1,713 2,892 4,028 4,804 5,498
pH 6 0,14 0,652 1, 348 2,17 2,942 4,032 5,22
pH 7 0,1 0,804 1,872 2,75 3,514 4,274 5,2

c. Kacang Tanah
Panjang Batang Hari Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7
Ph 4 0 0,132 0,588 1,065 1,405 1,63 1,915
pH 5 0,025 0,158 0,623 0,962 1,44 1,753 2,215
pH 6 0 0,188 0,502 1,292 1,765 2,178 2,747
pH 7 0 0,208 0,517 1,12 1,618 1,935 2,41

V. PEMBAHASAN

Praktikum Dasar – Dasar Ekologi Acara 3 yang berjudul Dampak Hujan Asam terhadap Perkecambahan Tanaman Budidaya bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan yang derajat keasamannya rendah terhadap perkecambahan dan perbedaan tanggapan perkecambahan tanaman beberapa tanaman budidaya pada kondisi asam. Biji yang berkecambah memerlukan kondisi tertentu yang mendukung proses perkecambahan biji diantaranya kondisi lingkungan yang sesuai. Kadar atau tingkat keasaman tanah sangat mempengaruhi mudah tidaknya suatu biji berkecambah. Perbedaan masa dormansi dapat dirubah oleh lingkungan asam atau basa, sehingga ada tanaman yang cepat berkecambah pada kondisi asam, tetapi ada yang tidak berkecambah sama sekali pada kondisi tersebut. Pada pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, indeks vigor, gaya berkecambah, dan bobot seluruh tanaman juga sangat dipengaruhi oleh kadar asam yang dikandung oleh tanaman. Oleh karena itu, tingkat adaptasi berbagai tanaman pada tingkat keasaman yang berbeda harus diketahui sehingga nantinya dapat memahami jenis tanaman yang cocok dikembangkan pada kadar asam yang tinggi maupun yang rendah.
Hujan asam atau deposisi asam adalah hujan dengan pH kurang dari 5. pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Unsur yang menyebabkan kemasaman air hujan antara lain SOx dan Nox. Pencemar udara seperti SOx dan Nox bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam antara lain :
1. Mempengaruhi kualitas air permukaan
2. Merusak tanaman
3. Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
4. Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
Deposisi asam dibedakan menjadi dua macam, alamiah dan buatan. Deposisi alamiah misalnya disebabkan oleh kebakaran hutan dan gunung meletus. Deposisi buatan disebabkan oleh pemupukan, asap pabrik, asap kendaraan bermotor, asap pengeboran. Pengaruh hujan asam pada tanaman pertanian dipengaruhi oleh konsentrasi keasaman, lama interaksi polutan, spesies tanaman, serta umur dan fase pertumbuhan.
Deposisi asam mulai terjadi semenjak revolusi industri terjadi. Berdasarkan tempat kejadiannya, desposisi asam dibedakan menjadi dua, yakni dry desposition dan wet desposition. Dry desposition adalah desposisi kering yakni terjadinya hujan asam di daerah terjadinya kejadian, misalnya di daerah terjadinya gunung meletus. Wet desposition adalah desposisi basah yakni terjadinya hujan asam berupa air dan tidak di tempat kejadian.

1. Jumlah Biji
a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman padi, jumlah biji berkecambah tanaman padi terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, belum ada tanaman padi yang berkecambah. Pada hari terakhir pengamatan, urutan jumlah biji berkecambah dari yang tertinggi adalah pH 5, pH 6 dan pH 7 (jumlah biji berkecambah sama), dan pH 4. Pada terakhir pengamatan, tanaman padi pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan jumlah biji berkecambah yang terlalu banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman padi dapat berkecambah pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 6) dan pH netral (pH 7), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi 5.

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman jagung, jumlah biji berkecambah tanaman jagung terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, tanaman padi pH 4 belum berkecambah, sedangkan urutan jumlah biji berkecambah tanaman padi dari yang tertinggi pH 7, pH 5, dan pH 6. Pada hari terakhir pengamatan, urutan jumlah biji berkecambah dari yang tertinggi adalah pH 5 dan pH 7 serta pH 4 dan pH 6. Pada terakhir pengamatan, tanaman jagung pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan jumlah biji berkecambah yang terlalu banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung dapat berkecambah pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 6), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi asam (pH 5) dan netral (pH 7).

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman kacang tanah, jumlah biji berkecambah tanaman kacang tanah terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, hanya pH 5 dan pH 6 yang berkecambah, sedangkan tanaman kacang tanah pH 4 dan pH 7 belum berkecambah. Pada hari terakhir pengamatan, urutan jumlah biji berkecambah tanaman kacang tanah dari yang tertinggi adalah pH 6, pH 7, pH 4, dan pH 5. Pada terakhir pengamatan, tanaman kacang tanah pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan jumlah biji berkecambah yang terlalu banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman kacang tanah dapat berkecambah pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 5) dan pH netral (pH 7), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi pH 6.

2. Panjang Akar
a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman padi, panjang akar tanaman padi terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, belum ada tanaman padi yang tumbuh akarnya. Pada hari terakhir pengamatan, urutan panjang akar dari yang terpanjang adalah pH 6, pH 5, pH 4, dan pH 7. Pada terakhir pengamatan, tanaman padi pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang akar yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman padi akarnya dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 5) dan pH netral (pH 7), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi pH 6. Pertambahan panjang akar lebih cocok pada pH 6 yang tidak terlalu asam tapi yang mendekati netral tapi tidak terlalu ke netral, karena unsur hara sebagian besar ada pada lahan dan tanah yang agak netral dimana akar dapat mencari dan mendapatkan unsur yang diperlukan.

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman jagung, panjang akar tanaman jagung terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan panjang akar dari yang terpanjang adalah pH 6, pH 7, pH 4, dan pH 5. Pada hari terakhir pengamatan, urutan panjang akar dari yang terpanjang adalah pH 7, pH 6, pH 4, dan pH 5. Pada terakhir pengamatan, tanaman jagung pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang akar yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung akarnya dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pH asam (pH 4, pH 5, dan pH 6), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi netral (pH 7).

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman kacang tanah, panjang akar tanaman kacang tanah terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, hanya tanaman kacang tanah pH 5 saja yang sudah tumbuh akarnya. Pada hari terakhir pengamatan, urutan panjang akar dari yang terpanjang adalah pH 7, pH 6, pH 5, dan pH 4. Pada terakhir pengamatan, tanaman kacang tanah pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang akar yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman kacang tanah akarnya dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pH asam (pH 4, pH 5, dan pH 6), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi netral (pH 7).

3. Panjang Batang
a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman padi, panjang tanaman padi terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, urutan tinggi tanaman padi dari yang tertinggi adalah pH 6, pH 7, pH 5, dan pH 4. Pada hari terakhir pengamatan, urutan tinggi tanaman padi dari yang tertinggi adalah pH 7, pH 6, pH 4, dan pH 5. Pada hari pertama dan terakhir pengamatan, tanaman padi pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang batang yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman padi dapat ditanam pada kondisi pH asam (pH 4, pH 5, pH 6), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi netral (pH 7).

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman jagung, panjang tanaman jagung terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, urutan tinggi tanaman dari yang tertinggi adalah pH 7, pH 6, pH 4, dan pH 5. Pada hari terakhir pengamatan, urutan tinggi tanaman jagung dari yang tertinggi adalah pH 5, pH 6, pH 7, dan pH 4. Pada hari pertama dan terakhir pengamatan, tanaman jagung pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang batang yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung dapat ditanam pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 6) dan kondisi pH netral (pH 7), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi pH 5.

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan grafik panjang batang tanaman kacang tanah, panjang tanaman kacang tanah terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, tanaman yang telah tumbuh batangnya hanya tanaman kacang tanah pada pH 5, sedangkan kacang tanah pada pH 4, pH 6, dan pH 7 belum mengalami pertumbuhan batang. Pada hari terakhir pengamatan, urutan tinggi tanaman kacang tanah dari yang tertinggi adalah pH 6, pH 7, pH 5, dan pH 4. Pada hari terakhir pengamatan, tanaman kacang tanah pada keempat pH tidak menunjukkan perbedaan panjang batang yang terlalu jauh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman kacang tanah dapat ditanam pada kondisi pH asam (pH 4 dan pH 5) dan kondisi pH netral (pH 7), namun pertumbuhannya akan optimal jika ditanam pada kondisi pH 6.

4. Gaya Berkecambah

Perkecambahan benih merupakan salah satu kriteria yang berkaitan dengan kualitas benih. Perkecambahan benih juga merupakan salah satu tanda dari benih yang telah mengalami proses penuaan. Pengertian dari berkecambah itu sendiri adalah jika dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula di embrio. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan kecambah yang normal, jika faktor lingkungan mendukung. Daya kecambah (viabilitas) dan vigor benih dapat menjadi informasi penting untuk mengetahui kemampuan tumbuh normal dalam kondisi optimal dan sub optimal. Pada dasarnya, benih yang memiliki kualitas baik salah satunya adalah memiliki daya kecambah minimal 85%.

a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan grafik gaya berkecambah tanaman padi, gaya berkecambah tanaman padi terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, gaya berkecambah semua tanaman padi adalah 0. Sejak hari kelima, gaya berkecambah tanaman padi pH 7 adalah 98%. Pada hari terakhir pengamatan, urutan gaya berkecambah tanaman padi dari yang tertinggi adalah pH 5, pH 6 dan pH 7, dan pH 4. Pada hari terakhir pengamatan, gaya berkecambah tanaman padi yang tertinggi pada pH 5 sebesar 100%.

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan grafik gaya berkecambah tanaman jagung, gaya berkecambah tanaman jagung terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, urutan gaya berkecambah tanaman jagung dari yang tertinggi adalah pH 7, pH 5, pH 6, dan pH 4, dimana pH 4 memiliki gaya berkecambah 0. Pada hari terakhir pengamatan, urutan gaya berkecambah tanaman padi dari yang tertinggi adalah pH 5 dan pH 7 serta pH 4 dan pH 6. Pada hari terakhir pengamatan, gaya berkecambah tanaman jagung yang tertinggi pada pH 5 dan pH 7 sebesar 100%.

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan grafik gaya berkecambah tanaman kacang tanah, gaya berkecambah tanaman kacang tanah terus bertambah setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, gaya berkecambah tanaman kacang tanah pH 4 dan pH 6 adalah 0. Pada hari pertama pengamatan, urutan gaya berkecambah tanaman kacang tanah dari yang tertinggi adalah pH 5 dan pH 6. Pada hari terakhir pengamatan, urutan gaya berkecambah tanaman kacang tanah dari yang tertinggi adalah pH 6, pH 7, pH 4, dan pH 5. Pada hari terakhir pengamatan, gaya berkecambah tanaman kacang tanah yang tertinggi pada pH 6 dan sebesar 98,33%.

5. Indeks Vigor

Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang optimal. Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia. Kecepatan benih dalam berkecambah menjadi metode yang umum digunakan untuk mengekspresikan vigor bibit. Kecepatan kecambah dapat dinyatakan dengan indeks vigor yang mengekspresikan jumlah benih yang berkecambah pada interval satu hari setelah dikecambahkan.

a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan grafik indeks vigor tanaman padi, indeks vigor tanaman padi mengalami fluktuasi setiap hari. Pada hari pertama pengamatan, indeks vigor adalah 0. Pada tanaman padi pH 4, indeks vigor tertinggi terjadi hari ketiga. Pada tanaman padi pH 5, indeks vigor tertinggi terjadi hari kedua, sedangkan pada hari ketujuh indeks vigor adalah 0. Pada tanaman padi pH 6, indeks vigor tertinggi terjadi hari kedua. Pada tanaman padi pH 7, indeks vigor tertinggi terjadi hari kedua, sedangkan indeks vigor pada hari keenam dan ketujuh adalah 0. Penyebab utama berhentinya perkecambahan adalah media tanam kertas filter yang kurang rapat. Ditambah lagi suasana pH asam yang terkondisikan sehingga biji berinteraksi dengan udara dan mengakibatkan busuk. Namun pada prinsipnya padi merupakan tanaman yang toleran dan cocok untuk ditanam pada berbagai pH. Tanaman padi pH 7 merupakan pH dengan indeks vigor tertinggi diantara tanaman padi pH yang lain.

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan grafik indeks vigor tanaman jagung, indeks vigor tanaman padi mengalami fluktuasi setiap hari. Tanaman jagung pH 4, pH 5, pH 6, dan pH 7 memiliki indeks vigor tertinggi pada hari kedua, yaitu 1,7; 2,2; 2,63; 2,6. Pada hari terakhir pengamatan, indeks vigor tanaman jagung semua pH adalah 0. Maka dapat disimpulkan bahwa indeks vigor tanaman jagung semua pH akan bergerak naik sampai hari kedua, kemudian semakin turun setiap harinya, hingga mencapai indeks vigor sebesar 0.

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan grafik indeks vigor tanaman kacang tanah, indeks vigor tanaman padi mengalami fluktuasi setiap hari. Tanaman kacang tanah pH 4, pH 5, pH 6, dan pH 7 memiliki indeks vigor tertinggi pada hari kedua, yaitu 1,8; 1,75; 2,165; 3,25. Dapat diketahui bahwa indeks vigor tertinggi adalah tanaman kacang tanah pH 7. Pada hari terakhir pengamatan, indeks vigor tanaman kacang tanah semua pH adalah 0. Untuk tanaman kacang tanah pH 5 dan pH 7, indeks vigor sebesar 0 semenjak hari keenam.

6. Rasio Akar/Batang
a. Tanaman Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan histogram rasio akar/batang tanaman padi, dapat diketahui bahwa rasio akar/batang padi, dari yang tertinggi yaitu pada perlakuan pH 4, kemudian pH 6, pH 7, pH 5. Pada pH 4 diperoleh perbandingan akar/batang yang paling tinggi dibandingkan pada pH yang lainnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan batang pada perlakuan pH 4 tidak berlangsung dengan baik, sehingga jika panjang akarnya dibagi dengan panjang batang akan diperolah rasio yang tinggi. Pertumbuhan batang padi pada pH 4 tidak dapat tumbuh dengan optimal karena pH 4 merupakan pH yang sangat asam. Pada dasarnya keadaan yang sangat asam misalnya disebabkan oleh hujan asam dapat mencuci hara dari tanah yang subur sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat dan terjadi penurunan produktivitas. Selain itu keadaan sangat asam dapat melepaskan logam berat yang dapat meracuni tanaman yang semula terikat dalam garam. Oleh karena itu meski tanaman toleran pada keadaan asam, ketoleranan ini dalam arti tidak ekstrem asam sekali atau sangat basa sekali, tapi keadaan yang mendekati ke asam atau mendekati ke basa. Apabila lingkungan amat sangat asam/basa biji, akar, tunas dapat busuk dan tidak lagi dapat berkecambah, serta tumbuh, karena pada dasarnya perkecambahan membutuhkan keadaan yang medium.

b. Tanaman Jagung (Zea mays)

Berdasarkan histogram rasio akar/batang tanaman jagung, dapat diketahui bahwa rasio akar/batang jagung dari yang tertinggi yaitu pada perlakuan pH 6, kemudian pH 7, pH 4, pH 5. Pada kondisi pH 6 batang tumbuh dengan baik, begitu pula dengan akarnya, sehingga batang lebih panjang daripada akarnya, karena pH 6 merupakan pH optimum jagung untuk tumbuh. Sebaliknya, pada kondisi pH 5 akar dan batang tanaman tidak berkembang dengan baik dibandingkan dengan ketiga tanaman jagung lainnya.

c. Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea )

Berdasarkan histogram rasio akar/batang tanaman kacang tanah, dapat diketahui bahwa rasio akar/batang kacang tanah, dari yang tertinggi yaitu pada perlakuan pH 5, kemudian pH 7, pH 4, pH 6. Pada pH 5 diperoleh perbandingan akar/batang yang paling tinggi dibandingkan pada pH yang lainnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan batang pada perlakuan pH 5 tidak berlangsung dengan baik, sehingga jika panjang akarnya dibagi dengan panjang batang akan diperolah rasio yang tinggi. Pertumbuhan batang padi pada pH 5 tidak dapat tumbuh dengan optimal karena pH 5 merupakan pH yang asam. Pada kondisi pH 7 batang tumbuh dengan baik, begitu pula dengan akarnya, sehingga jika panjang akarnya dibagi dengan panjang batang akan diperolah rasio yang rendah, karena pH 6 merupakan pH optimum kacang tanah untuk tumbuh.

VI. KESIMPULAN

1. Lingkungan pH rendah sangat mempengaruhi perkecambahan tanaman budidaya. Pada tanaman yang toleran pada pH rendah maka pertumbuhan atau perkecambahan tetap baik, namun untuk tanaman yang tidak toleran pada pH rendah maka pertumbuhan atau perkecambahan akan menurun ataupun terjadi abnormalitas ketika berada di lingkungan terlalu masam.
2. Tanggapan beberapa tanaman budidaya seperti yang digunakan dalam praktikum ini berupa padi, jagung, dan kacang tanah ialah tumbuh baik pada kondisi pH normal dan tetap tahan meski tumbuh pada kondisi asam.
• Untuk tanaman padi, jumlah biji berkecambah paling banyak pada pH 5, panjang akar tertinggi pada pH 7, panjang akar tertinggi pada pH 6, gaya berkecambah paling tinggi pada pH 5, indeks vigor tertinggi pada pH 6, dan rasio akar/batang tertinggi pada pH 4.
• Untuk tanaman jagung, jumlah biji berkecambah paling banyak pada pH 5 dan pH 7, panjang akar tertinggi pada pH 5, panjang akar tertinggi pada pH , gaya berkecambah paling tinggi pada pH 7, indeks vigor tertinggi pada pH 5 dan pH 7, dan rasio akar/batang tertinggi pada pH 6.
• Untuk tanaman kacang tanah, jumlah biji berkecambah paling banyak pada pH 6, panjang akar tertinggi pada pH 6, panjang akar tertinggi pada pH 7, gaya berkecambah paling tinggi pada pH 6, indeks vigor tertinggi pada pH 4, dan rasio akar/batang tertinggi pada pH 5.

DAFTAR PUSTAKA

Amsyari, F. 1981. Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Balai Aksara, Jakarta.

Cahyo, M.S. 1998. Ekologi Pertanian. Depdikbud, Jakarta.

Gillet, R.W., G.P Ayers, P.W. Selleck. 2005. Concentrations of Nitrogen and Sulfur species in gas and rainwater. Journal water, air, and soil pollution 20: 205-215.

Hara, H. 2009. What Is Acid Deposition. . Diakses pada tanggal 7 April 2011.

Kennedi, I. 1986. Acid Soil and Acid Rain. Bell and Howell Company, London.

Nazarudin, Leni. 2010. Trend hujan asam di Jakarta. Buletin Meteorolgi, Klimatologi, Kualitas Udara, Geofisika, dan Lingkungan 3: 139-146.

Satriyo, Saputro. 2008. Studi kondisi kimiawi penyebaran Pb, debu, dan kebisingan di kota Jakarta. Jurnal Kajian Ilmiah Lembaga Penelitian Ubara Jaya 9: 862-891.

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2011 in Dasar-dasar Ekologi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: