RSS

Acara 1: Salinitas Sebagai Faktor Pembatas Abiotik

11 May

ACARA 1
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I. TUJUAN

1. Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kata ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos yang berarti rumah atau tempat untuk hidup dan logos yang berarti ilmu. Secara umum, ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya. Ekologi memuat tiga unsur penting yaitu materi, energi dan informasi. Lingkungan suatu organisme dapat bersifat biotik dan abiotik. Salah satu prinsip utama ekosistem adalah adanya faktor pembatas. Pada lingkungan abiotik, salah satu faktor pembatasnya adalah salinitas (James, 1980).
Jadi, faktor-faktor ekologi atau lingkungan yang beranekaragam dapat berpengaruh terhadap ketidakadaan atau adanya kesuburan atau kelemahan, keberhasilan atau kegagalan berbagai komunitas tumbuhan melalui takson-takson penyusunnya. Organisme mempunyai batasan maksimal dan minimal terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhinya, hal ini sesuai dengan hukum toleransi Shelford (Polunin, 1990).
Salinitas didefinisikan sebagai adanya garam terlarut dalam konsentrasi yang berlebihan dalam larutan tanah. Satuan pengukuran salinitas adalah konduktivitas elektrik yang dilambangkan dengan decisiemens/m pada suhu 25o C. Pengaruh utama salinitas adalah berkurangnya pertumbuhan daun yang langsung mengakibatkan berkurangnya fotosintesis tanaman. Salinitas mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman pertanian penting dan pada kondisi terburuk dapat menyebabkan terjadinya gagal panen. Pada kondisi salin, pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat karena akumulasi berlebihan Na dan Cl dalam sitoplasma, menyebabkan perubahan metabolisme di dalam sel. Aktivitas enzim terhambat oleh garam. Kondisi tersebut juga mengakibatkan dehidrasi parsial sel dan hilangnya turgor sel karena berkurangnya potensial air di dalam sel. Berlebihnya Na dan Cl ekstraselular juga mempengaruhi asimilasi nitrogen karena tampaknya langsung menghambat penyerapan nitrat (NO3) yang merupakan ion penting untuk pertumbuhan tanaman (Yuniati, 2004).
Salinitas sering merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Terganggunya pertumbuhan tanaman karena kadar garam yang tinggi, menurut Mengel dan Kirby (1987) disebabkan oleh dua hal; pertama, menurunnya potensial air pada media tumbuh menyebabkan penyerapan air oleh akar tanaman sangat terbatas; kedua, akumulasi ion-ion tertentu menyebabkan keracunan pada tanaman. Tetapi yang lebih umum terjadi adalah kesukaran dalam penyerapan air. Kramer (1969) menyatakan bahwa berkurangnya serapan air mempengaruhi proses fotosintesis, metabolisme karbohidrat dan pergerakan fotosintat dalam tanaman. Perubahan-perubahan tersebut dapat berakibat bagi rendahnya hasil (Mapegau, 2006).
Terkait dengan lingkungan salin, terdapat tiga kelompok tanaman yaitu: kelompok halofit yang toleran terhadap salinitas, kelompok euhalofit yang memerlukan salinitas tinggi dan kelompok glikofit yang rentan terhadap salinitas tinggi. Beberapa tanaman seperti padi dan jagung memiliki toleransi yang tinggi terhadap keadaan salin. Sedangkan tomat, timun, bawang merah, wortel, kentang, dan selada merupakan tanaman yang rentan terhadap keadaan salin, dan jenis kacang-kacangan sangat peka terhadap keadaan salin (Pangaribuan, 2005).
Tanaman yang kurang atau tidak toleran terhadap salinitas akan mengalami perubahan struktur sel, yaitu pembengkakan mitokondria dan badan golgi, peningkatan jumlah retikulum endoplasma, dan kerusakan kloroplas. Di samping itu tanaman akan mengalami perubahan aktivitas metabolisme, meliputi penurunan laju fotosintesis, peningkatan laju respirasi, perubahan susunan asam amino, serta penurunan kadar gula dan pati di dalam jaringan tanaman. Peningkatan konsentrasi garam terlarut dalam tanah akan meningkatkan tekanan osmotik larutan tanah, akibatnya jumlah air yang masuk ke dalam akar tanaman akan berkurang atau jumlah air yang tersedia menipis (Anonim, 2007).
Pada tanaman pendek, konsentrasi Na dan Cl terenadah terdapat pada akar dan tertinggi pada petiole. Sedangkan pada tanaman tinggi, konsentrasi Na dan Cl terendah terdapat pada daun. Keadaan ini disebabkan (dan mungkin fertilisasi) oleh peningkatan konsentrasi Na dan Cl pada akar dan sebagai indikasi strategi pada beberapa tanaman vigorous untuk meminimalkan daun (Staples dan Toeniesen, 1984).
Kebutuhan utama dalam pengelolaan air untuk mengendalikan salinitas, antara: frekuensi irigasi, kecukupan pencucian, drainase, serta kontrol kedalaman air tanah. Keseluruhan pengelolaan air adalah untuk menjaga keseimbangan antara air irigasi dengan evapotranspirasi, yang disesuaikan dengan kebutuhan air oleh tanaman serta menurunkan kadar garam yang ada di daerah perakaran tanaman (Jumberi dan Yufdy, 2005).
Selain salinitas, faktor lain yang mempengaruhi peningkatan produksi tanaman adalah faktor pemupukan. Rendahnya hasil produksi suatu tanaman diduga sebagai akibat rendahnya kadar humus dalam tanah, miskin hara NPKS, dan hara mikro serta terlalu tingginya kadar Ca dalam tanah. Hara K merupakan hara yang banyak diserap tanaman setelah hara N (Ispandi dan Munip, 2004).

III. METODOLOGI

Praktikum Dasar-dasar Ekologi acara 1 yang berjudul Salinitas Sebagai Faktor Pembatas Abiotik ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 Maret 2011 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain benih tiga macam tanaman, yaitu padi (Oryza sativa), kacang panjang (Vigna sinensis), ketimun (Cucumis sativus), polybag, NaCl teknis, pupuk kandang, dan kertas label. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: timbangan analitik, gelas ukur, erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam dan penggaris.
Hal pertama yang dilakukan adalah sebanyak dua belas polybag diisi dengan tanah sebanyak kurang lebih 3 kg. Kerikil, sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran yang ada dalam tanah tersebut dibersihkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Selanjutnya dipilih biji yang sehat dari jenis tanaman yang akan diperlakukan. Kemudian ditanam lima biji ke dalam masing-masing polibag. Tanaman disiram selama satu minggu dengan menggunakan air biasa. Setelah berumur satu minggu, bibit dijarangkan menjadi dua tanaman per polybag dengan dipilih tanaman yang sehat. Larutan NaCl dibuat dengan konsentrasi 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm. Sebagai pembanding digunakan air aquadest. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Larutan garam dituang pada tiap polybag sesuai perlakuan sampai kapasitas lapang. Volume masing-masing larutan untuk tiap polybag harus sama. Tiap polybag harus diberi label sesuai perlakuan dan ulangannya. Label harus mudah dibaca untuk mencegah tertukar dengan perlakuan lain saat pengamatan. Pemberian larutan garam dilakukan setiap dua hri sekali sampai 7 kali pemberian. Selang hari diantaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air biasa dengan volume yang sama. Percobaan dilaksanakan sampai tanaman berumur 21 hari, kemudian setelah berumur 21 hari, dilakukan pemanenan. Saat panen diusahakan akar tanaman tidak rusak/terpotong. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke-21. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun yang dilakukan dua hari sekali, berat segar tanaman yang dilakukan pada akhir pengamatan, dan abnormalitas tanaman (klorosis pada daun tersebut). Data yang diperoleh dihitung reratanya dari semua ulanganpada tiap perlakuan. Dan selanjutnya digambar grafik tinggi tanaman pada masing-masing konsentrasi larutan garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman, grafik jumlah daun pada masing-masing konsentrasi larutan garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman, dan histogram berat segar, berat kering, dan panjang akar masing-masing tanaman pada berbagai konsentrasi garam.

IV. HASIL PENGAMATAN

1. Tinggi Tanaman
a. Padi
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 8,008 15,71 19,08 20,81 21,94 23,04 24,09 25,2
2000 ppm 7,867 15 17,77 19,54 20,34 20,72 21,11 22,41
4000 ppm 7,325 14,32 18,47 19,71 21,83 23,53 24,53 25,26

b. Kacang Panjang
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 18,28 26,3 34,23 47,23 54,03 64,59 67,91 77,4
2000 ppm 15,25 21,17 28,12 36,73 49,76 59,63 63,78 70,81
4000 ppm 17,13 23,14 30,28 35,79 45,33 62,15 68,72 76,6

c. Timun
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 7,058 9,1 11,33 13,68 16,12 18,55 21,35 25,75
2000 ppm 7,117 9,58 11,88 14,5 16,47 18,06 20,67 23,99
4000 ppm 7,683 9,2 11,52 14,28 14,59 17,85 20,13 23,98

2. Jumlah Daun
a. Padi
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 1,17 1,75 2,17 2,75 3 3,17 3,25 3,3
2000 ppm 1,17 1,8 2 2,6 3 3 3,08 3,1
4000 ppm 1 1,75 2 2,6 2,9 3,08 3,17 3,3

b. Kacang Panjang
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 1,17 3 3,67 4,7 5,9 7 7,67 8,1
2000 ppm 1,33 3 3,6 4,63 6 6,42 6,75 7,5
4000 ppm 1,17 3 3,67 4,63 5,8 6,67 7,42 8,3

c. Timun
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
0 ppm 1,5 2,4 2,6 3 3,4 3,67 4,08 4,6
2000 ppm 1,56 2,6 2,83 3 3,3 3,83 4,33 4,9
4000 ppm 1,5 2,6 2,8 3 3,3 3,83 4,17 4,5

3. Berat Segar, Berat Kering, Panjang Akar
a. Padi
Perlakuan Berat Segar Berat Kering Panjang Akar
0 ppm 0,194 0,063 5,592
2000 ppm 0,211 0,052 5,992
4000 ppm 0,288 0,077 6,392

b. Kacang Panjang
Perlakuan Berat Segar Berat Kering Panjang Akar
0 ppm 7,028 1,473 18,92
2000 ppm 5,94 1,573 15,35
4000 ppm 6,692 1,422 13,76

c. Timun
Perlakuan Berat Segar Berat Kering Panjang Akar
0 ppm 6,076 0,936 15,67
2000 ppm 5,453 0,842 18,42
4000 ppm 5,173 0,92 15,08
V. PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui dampak salinitas terhadap tanaman dan mempelajari tanggapan tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda dalam media tanam. Dengan begitu dapat dilihat respon tanaman baik dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Keberadaan larutan garam tersebut sangatlah mempengaruhi tanaman karena tanaman merupakan organisme yang bersifat holofitik, artinya tanaman memanfaatkan cairan untuk melarutkan unsur hara agar tanaman dapat tumbuh. Tanaman akan kesulitan dalam menyerap larutan makanan apabila viskositas larutan yang diserap sama atau lebih besar daripada cairan di dalam tubuh tumbuhan tersebut. Semakin banyak unsur atau senyawa yang terlarut dalam larutan tersebut, viskositas larutan akan semakin besar. Semakin tingginya kadar garam yang terkandung di dalam larutan, maka tekanan osmotik larutan di dalam tanah akan meningkat, sehingga ketersediaan air bagi tanaman juga akan berkurang. Hal tersebut menyebabkan terhambatnya perkecambahan benih, kualitas hasil, produksi, dan merusak jaringan tanaman. Pengaruh lain yang timbul adalah menyebabkan penurunan potensial air serta berpengaruh terhadap metabolisme tanaman terutama dalam proses fisiologi dan morfologi dalam hubungannya dengan keseimbangan air dalam tubuh tanaman. Pada umumnya, unsur yang terlarut dalam larutan garam adalah garam Natrium (NaCl).
Namun, tidak semua tanaman mendapat dampak yang buruk apabila berada dalam keadaan kadar garam yang tinggi. Maka dari itu dikenal pula 3 klasifikasi tanaman yang dibedakan berdasarkan tanggapan terhadap salinitas. Yang pertama adalah tanaman halofit yaitu tanaman yang toleran terhadap salinitas yang tinggi, kedua adalah tanaman glikofit yaitu tanaman yang rentan terhadap salinitas yang tinggi, dan ketiga adalah tanaman euhalofit yang tidak terpengaruh oleh salinitas. Dengan mengetahui klasifikasi ketiga tanaman tersebut, dapat diteliti termasuk jenis klasifikasi yang mana tiga tanaman yang dipakai dalam percobaan kali ini yaitu padi, kacang panjang, dan timun. Dengan menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm serta pengamatan selama 8 hari diharapkan tanaman yang dipakai dalam percobaan ini sudah menunjukkan responnya terhadap salinitas.

1. Grafik Tinggi Tanaman Vs Hari Pengamatan
a. Padi

Konsentrasi NaCl yang digunakan mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Dari grafik dapat di lihat bahwa pada padi yang diberi perlakuan 0 ppm, pertumbuhannya stabil. Hal ini bisa terjadi karena pada konsentrasi 0 ppm tanaman padi dapat beradaptasi dengan baik. Pada perlakuan 4000 ppm, pertumbuhan tanaman padi stabil. Bahkan hampir sama dengan perlakuan 0 ppm. Sedangkan pada perlakuan 2000 ppm, tanaman padi pertumbuhannya tidak stabil. Hal ini karena padi merupakan kelompok tanaman euhalofit yang menghendaki kadar garam tinggi sehingga pertumbuhan tanaman padi pada perlakuan NaCl 4000 ppm lebih tinggi daripada tanaman padi dengan perlakuan 2000 ppm.

b. Kacang Panjang

Dilihat dari grafik antara hari pengamatan dan tinggi tanaman kedelai diatas dapat dilihat bahwa pada perlakuan 0 ppm, 2000 ppm, maupun 4000 ppm terjadi perbedaan. Pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa tanaman kedelai dengan perlakuan 0 ppm tumbuh lebih tinggi dan lebih stabil dibanding perlakuan yang menggunakan penyiraman larutan NaCl 2000 ppm maupun 4000 ppm. Tanaman kacang panjang dengan perlakuan 4000 ppm tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kacang panjang dengan perlakuan 2000 ppm. Hal ini sesuai dengan teori, dimana kacang panjang merupakan kelompok tanaman halofit yang toleran terhadap salinitas sehingga pertumbuhan tanaman kacang panjang pada perlakuan 4000 ppm lebih tinggi daripada perlakuan 2000 ppm.

c. Timun

Dilihat dari grafik, pertumbuhan tinggi tanaman timun mengalami kenaikan setiap harinya. Tanaman timun dengan perlakuan 0 ppm mengalami pertumbuhan yang stabil sehingga grafiknya terus naik. Tanaman timun dengan perlakuan 2000 ppm juga mengalami pertumbuhan yang cukup stabil. Tetapi pertumbuhan tanaman timun dengan perlakuan 2000 ppm lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan 0 ppm. Sedangkan tanaman timun 4000 ppm mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan 0 ppm serta 2000 ppm. Hal ini karena timun merupakan kelompok tanaman glikofit yang rentan terhadap salinitas sehingga pertumbuhan tanaman timun pada perlakuan 4000 ppm lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan 0 ppm serta 2000 ppm.

2. Grafik Jumlah Daun Vs Hari Pengamatan
a. Padi

Pengamatan jumlah daun tanaman padi selama 8 hari pengamatan dilakukan dengan berbagai perlakuan, yaitu 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm. Pada grafik, jumlah daun tanaman padi pada perlakuan 0 ppm lebih tingi dibandingkan dengan jumlah daun pada perlakuan 2000 ppm dan 4000 ppm. Hal ini karena perlakuan 0 ppm menggunakan air biasa yang bersifat netral sehingga tanaman padi bisa beradaptasi dan tumbuh dengan baik. Sedangkan jumlah daun tanaman padi dengan perlakuan 2000 ppm pada grafik terlihat paling rendah diantara perlakuan 0 ppm dan 4000 ppm. Hal ini karena padi merupakan kelompok euhalofit yang menghendaki kadar garam tinggi sehingga grafik jumlah daun tanaman padi pada perlakuan 0 ppm dan 4000 ppm lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 2000 ppm.

b. Kacang Panjang

Grafik jumlah daun tanaman kacang panjang dari 8 hari pengamatan didapatkan bahwa tanaman kedelai 0 ppm dan juga 4000 ppm grafiknya hampir berhimpit. Namun dapat dilihat bahwa grafik tanaman pada perlakuan 4000 ppm hampir menyamai grafik 0 ppm. Pada akhir pengamatan nilai jumlah daun tanaman dengan perlakuan 4000 ppm mendominasi, kemudian disusul oleh 0 ppm dan yang terakhir adalah tanaman dengan perlakuan 2000 ppm. Hal ini sesuai dengan teori dimana kacang panjang merupakan kelompok tanaman halofit yang toleran terhadap salinitas tinggi sehingga jumlah daun pada perlakuan 4000 ppm lebih banyak dibandingkan dengan jumlah daun pada perlakuan 2000 ppm.

c. Kacang Panjang

Pada grafik jumlah daun timun dilakukan berbagai perlakuan yakni 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm. Hasil yang digambarkan dalam grafik yakni pada perlakuan dengan 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm terus mengalami kenaikan. Tanaman timun dengan ketiga perlakuan tersebut mempunyai jumlah daun yang berbeda-beda. Pada grafik terlihat bahwa timun dengan perlakuan 2000 ppm mempunyai jumlah daun lebih banyak daripada perlakuan 0 ppm dan 4000 ppm. Timun merupakan kelompok tanaman glikofit yang rentan pada salinitas. Sehingga jumlah daun pada perlakuan 2000 ppm lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan 4000 ppm. Tetapi, dalam grafik jumlah daun pada perlakuan 0 ppm lebih rendah daripada perlakuan 2000 ppm. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori. Penyebab jumlah daun pada perlakuan 0 ppm lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 2000 ppm adalah rontoknya beberapa daun akibat kering sehingga hal tersebut akan mempengaruhi rata-rata jumlah daun pada perlakuan 0 ppm.

3. Histogram Berat Segar-Berat Kering Tanaman
a. Padi

Histogram berat segar dan berat kering tanaman padi dengan perlakuan 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm menunjukkan bahwa berat segar maupun berat kering tanaman padi dengan perlakuan 4000 ppm adalah yang paling tinggi. Hal ini terjadi karena padi merupakan tanaman glikofit yang menghendaki kadar garam tinggi sehingga masih dapat beradaptasi pada lingkungan dengan salinitas tinggi.

b. Kacang Panjang

Dari histogram dapat dilihat bahwa berat basah paling optimal pada tanaman kacang tanah dengan diperlakukan kondisi kontrol atau salin 0 ppm, kedua disusul oleh 4000 ppm dan yang terakhir 2000 ppm. Begitu pula berat kering tanaman berurut paling tinggi adalah kondisi kontrol atau kondisi salin 0 ppm disusul oleh kondisi salin 4000 ppm dan yang terakhir 2000 ppm. Hasil ini berarti bahwa tanaman kacang tanah berada pada kondisi optimal pada keadaan dengan lingkungan kontrol atau salinitas dalam keadaan sangat kecil, dan disusul oleh keadaan salinitas yang sangat tinggi dan yang terakhir sedang. Pada keadaan salin yang tertinggi inilah mungkin keadaan tanaman yang sangat memerlukan mineral ataupun garam yang cukup.

c. Timun

Pada histogram diatas dapat diketahui bahwa tanaman timun dari data diatas dapat tumbuh dan berkembang dengan baik padda kondisi 0 ppm disusul dengan 2000 ppm sebagai gambaran lingkungan yang salin sedang. Dan yang terakhir adalah 4000 ppm sebagai gambaran lingkungan yang sangat salin. Dari data tersebut pula dapat disimpulkan bahwa mentimun dapat hidup dan merespon lingkungan yang salinnya rendah ataupun kurang karena timun merupakan kelompok tanaman glikofit.

4. Histogram Panjang Akar
a. Padi

Dari histogram panjang akar padi didapatkan bahwa akar padi mencapai panjang optimum pada perlakuan 4000 ppm. Hal ini disebabkan karena padi merupakan kelompok tanaman euhalofit yang menghendaki kadar garam tinggi sehingga pertumbuhan panjang akar padi pada perlakuan 4000 ppm lebih panjang dibandingkan dengan perlakuan 0 ppm dan 2000 ppm.

b. Kacang Panjang

Histogram mengenai panjang akar tanaman kacang panjang diatas berarti bahwa pada tanaman kacang panjang, panjang akar tertinggi adalah tanaman kacang panjang dengan perlakuan 0 ppm, kemudian tanaman kacang panjang dengan perlakuan 2000 ppm, dan yang terakhir tanaman kacang panjang dengan perlakuan 4000 ppm. Hal ini mungkin berarti akar tanaman kacang panjang dapat tumbuh didaerah yang mengandung cukup tinggi mineral dan rendah mineral tergantung kualitas benih tersebut.

c. Timun

Dari histogram tersebut bisa dilihat kalau panjang akar timun pada perlakuan 2000 ppm lebih tinggi daripada panjang akar pada perlakuan 0 ppm dan 4000 ppm. Hal tersebut terjadi munagkin pada saat mencabut akar dari dalam tanah, ada bagian dari akar timun tersebut yang tidak terambil beserta tanamannya atau terputus. Itulah yang menyebabkan data sedikit rancu. Meski demikian, hasil data panjang akar yang diberikan memiliki selisih yang sangat tipis, karena ketiga akar tersebut tetap aktif melakukan pencarian unsur hara ke dalam tanah secara bersamaan. Timun merupakan kelompok tanaman glikofit yang rentan terhadap salinitas tinggi. Hal ini mengacu terhadap selisih angka yang dihasilkan oleh tiap-tiap perlakuan pada tiap-tiap pengukuran tidaklah terlalu jauh.

VI. KESIMPULAN

1. Kadar garam (salinitas) memiliki pengaruh pertumbuhan tanaman, maka terdapat 3 klasifikasi tanaman berdasarkan respon terhadap salinitas yaitu golongan halofit, glikofit, dan euhalofit.
2. Tanaman yang mampu beradaptasi pada lingkungan salin akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
3. Kacang panjang (Vigna sinensis) termasuk tanaman golongan halofit sebab toleran terhadap salinitas pada media tanamnya.
4. Timun (Cucumis sativus) termasuk tanaman golongan glikofit sebab rentan terhadap salinitas pada media tanamnya.
5. Padi (Oryza sativa) termasuk tanaman golongan euhalofit sebab tidak tepengaruhi salinitas pada media tanamnya.
6. Ketoleranan ini hanya berlaku pada saat perkecambahan.
7. Akar (radikle) cenderung lebih tahan terhadap kondisi salin jika dibandingkan dengan batang (plumulae).
8. Jika kebutuhan tanaman akan salinitas terpenuhi, tidak kekurangan dan kelebihan atau tepat pada keadaan optimumnya maka perkembangan, pertumbuhan keadaan jaringan, produksi, sampai pada kualitas hasil akan menjadi baik.
9. Salinitas akan mempengaruhi proses fisiologi dan morfologi dalam hubungannya dengan keseimbangan air dalam tubuh tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Glikofit. . Diakses pada tanggal 18 Maret 2011.

Ispandi, A. Dan A. Munip. 2004. Efektifitas pupuk Pk dan frekuensi pemberian pupuk dalam meningkatkan serapan hara dan produksi kacang tanah di lahan kering alfisol. Jurnal Ilmu Pertanian 11: 11-24.

James, E. 1980. General Ecology. Wm. C. Brown Publishing, USA.

Jumberi, A. Dan M.P. Yufdy. 2005. Potensi penanaman tanaman serealia dan sayuran pada tanah terkena dampak tsunami. Jurnal Agronomi 4: 18-23.

Mapegau. 2006. Pengaruh salinitas tanah terhadap hasil dan distribusi bahan kering pada tanaman jagung Kultivar Arjuna selama fase pengisian biji. Jurnal Agrivigor 6: 9-17.

Pangaribuan, Nirmala. 2005. Penapisan varietas padi toleran salinitas pada lahan rawa di kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Agronomi Indonesia 37: 101-106.

Polunin, N. 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Staples, R.C. and G.H. Toeniesen. 1984. Salinity Tolerance in Plants Stategnes for Crop Improvmen. John Willey & Sons, New York.

Yuniati, Ratna. 2004. Penapisan galur kedelai (Glycine max) toleran terhadap NaCl untuk penanaman di lahan salin. Makara Sains 8: 21-24.

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2011 in Dasar-dasar Ekologi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: