RSS

Acara 2: KOMPETISI INTER DAN INTRA SPESIFIK SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS BIOTIK

12 May

I. TUJUAN

1. Mengetahui pengaruh faktor biotik terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi inter dan intra spesifik.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kompetisi adalah interaksi antara dua organisme yang berusaha untuk hal sama. Interaksi kompetisi biasanya interspesifik berpengaruh terhadap pertumbuhan dan proses bertahan hidup oleh dua atau lebih spesies populasi. Interaksi kompetisi biasanya melibatkan ruang lingkup, makanan, nutrisi, cahaya matahari, dan tipe-tipe lain dari interaksi. Kompetisi interspesifik dapat menghasilkan penyesuaian keseimbangan oleh dua spesies atau dari satu populasi menggantikan yang lain (Odum, 1983).
Kompetisi terjadi apabila tanaman mencapai tingkat pertumbuhan tertentu dan akan semakin keras dengan pertambahan ukuran tanaman dengan umur. Kemampuan suatu tanaman dipengaruhi oleh kemampuan suatu organ yang melakukan kompetisi. Daun dan akar merupakan bagian yang berperan aktif dalam kompetisi. Akar yang memiliki luas permukaan lebar, daun yang banyak, lebar, dan tersebar di seluruh tubuh tanaman akan meningkatkan kompetisi, akibatnya kompetisi tanaman pun tinggi (Fuller dan Caronthus, 1964).
Kompetisi menujukkan suatu tipe interaksi di mana dua individu atau lebih bersaing untuk mendapatkan makanan yang jumlahnya terbatas, tempat hidup, dan lain-lain. Kompetisi inter spesifik bukanlah suatu kompetisi yang sederhana karena melibatkan berbagai tipe organisme sehingga memungkinkan terjadi hasil yang berbeda-beda. Jika dua spesies atau lebih terlibat dalam kompetisi secara langsung untuk memperebutkan hal yang sama, salah satu dari semuanya, lebih efisien dalam memanfaatkan sesuatu yang diperebutkan tadi maka individu itu akan bertahan hidup, sedang yang tidak dapat memanfaatkan secara efisien yang diperebutkan tadi akan punah (Clapham, 1973).
Interaksi adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu intraspesifik dan interspesifik. Interaksi interspesifik adalah hubungan yang terjadi antara organisme yang berasal dari satu spesies, sedangkan interaksi intra spesifik adalah hubungan antara organisme yang berasal dari spesies yang berbeda. Secara garis besar, interaksi interspesifik dan intraspesifik dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu (1) netralisme yaitu hubungan antara makhluk hidup yang tidak saling menguntungkan dan saling merugikan satu sama lain, (2) mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang saling menguntungkan, (3) parasitisme yaitu hubungan yang hanya menguntungkan satu jenis makhluk hidup saja, sedangkan yang lainnya dirugikan, (4) predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antara satu jenis makhluk hidup terhadap makhluk hidup lain, (5) kooperasi yaitu hubungan antara dua makhluk hidup yang bersifat saling membantu antara keduanya, (6) komensalisme yaitu hubungan antara dua makhluk hidup yang satu mendapat keuntungan sedang yang lain dirugikan, (7) antagonis yaitu hubungan dua makhluk hidup yang saling bermusuhan (Elfidasari, 2007).
Kompetisi terjadi sejak awal pertumbuhan tanaman. Semakin dewasa tanaman, maka tingkat kompetisinya semakin meningkat hingga suatu saat akan mencapai klimaks kemudian akan menurun secara bertahap. Saat tanaman peka terhadap kompetisi , hal itu disebut periode kritis (Soejono, 2009).
Menurut Rao (2000), gulma dapat menjadi kompetitor dan merupakan faktor pembatas penting bagu produktivitas kedelai. Besarnya tingkat kerugian akibat persaingan dengan gulma sangat bervariasi bergantung pada populasi dan macam spesies gulma yang ada. Gulma yang sering dijumpai termasuk kategori noxious weed (gulma berbahaya dan sangat merugikan) serta sulit dikendalikan oleh herbisida maupun penyiangan, yaitu alang-alang dan teki (Budi, 2009).
Pemahaman tentang periode kritis penting dalam membentuk strategi usaha untuk meminimalkan gangguan gulma selama tanaman tumbuh. Kemiringan lahan, iklim, genetik tanaman, dan budidaya seperti pengolahan lahan, kesuburan tanah, persemaian, dan jarak tanam merupakan beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi periode kritis penanganan gulma yang dipicu oleh jenis gulma, kepadatan gulma, periode gulma merugikan tanaman dan pertumbuhan gulma (Evans et al., 2004).
Kebutuhan tanaman mengenai unsur hara dan air berbeda maka, tingkat kompetisi tanaman dapat berbeda pada tanaman yang dikombinasi. Perbedaan intensitas kebutuhan zat, perbedaan sistem perakaran (dangkal-dalam) digunakan sebagai dasar diterapkannya sistem tumpang sari. Untuk mendapatkan sistem yang tepat, faktor yang harus diperhatikan yaitu: kombinasi tanaman, penelitian yang telah dilakukan mengenai kombinasi kacang tanah – jagung berproduksi lebih tinggi dari pada kacang tanah – padi (Gunawan,1996).
Pada sistem pertanian monokultur, jarak tanam yang terlalu dekat akan mengakibatkan kompetisi akan air dan hara. Bila jarak tanamnya diperlebar, maka besarnya tingkat kompetisi akan berkurang. Dalam prakteknya di lapangan, petani mengelola tanamannya dengan melakukan pengaturan pola tanam, pengaturan jarak tanam, pemangkasan cabang serta ranting, dan lain sebagainya (Hariah et al., 2006).
Kedelai termasuk tanaman yang memerlukan 100% jumlah sinar matahari. Pada jarak tanam, tanaman yang rapat, udara, dan tanah berkelembaban tinggi, memperlihatkan pertanaman berdaun lebat yang saling menutupi dan berbiji sedikit, akibatnya akan menurunkan hasil (Heddy et al., 1990).
Seleksi tanaman di lingkungan optimal memang memiliki banyak keuntungan, yaitu ditandai oleh heretabilitas tinggi dan kemajuan seleksi yang lebih besar karena ekspresi potensi genetik tanaman dapat mencapai maksimal dan terjadi akumulasi gen. Dengan terbatasnya lahan subur, maka budidaya tanaman mengarah pada lingkungan suboptimal. Kedelai yang ditanam secara tunggal dapat disebut sebagai budidaya pada lingkungan optimal. Sedangkan kedelai dan jagung disebut sebagai tanaman pada lingkungan yang suboptimal. Pada cara tanam secara tumpang sari, kompetisi hara air, dan radiasi surya adalah faktor lingkungan yang menyebabkan kedelai tumbuh dan berkembang pada kondisi suboptimal. Pada stadia reproduktif kedelai sensitif terhadap tekanan hara, air, dan radiasi surya yang dapat diukur dari penurunan hasil polong kacang tanah (Kusno et al.,1998).

III. METODOLOGI

Praktikum Dasar-Dasar Ekologi acara 2 yang berjudul Kompetisi Inter dan Intra Spesifik sebagai Faktor Pembatas Biotik ini dilakukan pada hari Senin tanggal 21 Maret 2011 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat yang digunakan adalah timbangan analitik, penggaris, peralatan tanam dan oven. Bahan yang digunakan yaitu 3 macam tanaman, polybag, pupuk kandang, kantong kertas dan kertas label. Tiga macam tanaman tersebut adalah kedelai (Glycine max), jagung (Zea mays) dan kacang tanah (Aranchis hypogaea).
Cara kerjanya, polybag disiapkan lalu diisi tanah kurang lebih sebanyak 3 kg. Kerikil, sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran dibersihkan agar tidak mengganggu tanaman. Dipilih biji yang sehat dari tanaman yang diperlakukan. Perlakuan tersebut yaitu monokultur kedelai sejumlah 2, 4, dan 6 (biji) tanaman; polikultur kedelai-jagung (1+1, 2+2, 3+3); polikultur kedelai-kacang tanah (1+1, 2+2, dan 3+3). Masing-masing diperlakukan 3 kali ulangan. Tiap polybag diberi label sesuai dengan perlakuan. Penyiraman dilakukan setiap hari hingga umur 21 hari. Setelah 7 hari penanaman, tiap 2 hari sekali diamati dan diukur tinggi tanaman dan jumlah daun. Setelah umur 21 hari, dilakukan pemanenan, kemudian tanaman ditimbang dan diamati berat segarnya. Kemudian dikeringanginkan dan dimasukkan ke dalam kantong kertas dan dioven dalam suhu 80 °C selama 2 hari hingga berat konstan. Setelah itu ditimbang dan diamati berat kering tanaman. Pada akhir pengamatan, dari data yang telah dikumpulkan, dihitung rerata tiga ulangan pada tiap perlakuan dan selanjutnya digambar grafik garis tinggi tanaman masing-masing perlakuan vs hari pengamatan serta histogram berat segar dan berat kering tanaman masing-masing perlakuan vs hari pengamatan.

IV. HASIL PENGAMATAN
1. Tinggi Tanaman
a. Monokultur Kacang Tanah
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Monokultur 2 7,396 11,08 13,7 15,73 17,94 20,07 21,19 22,73
Monokultur 4 4,833 9,658 12,87 15,09 16,56 18,57 20,39 20,41
Monokultur 6 5,238 9,89 13,28 15,68 17,05 18,7 20,49 21,86

b. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (1+1)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 4,825 9,333 12,33 12,88 16,91 19,16 21,41 23,6
Jagung 18,88 22,4 28,53 32,15 35,69 40,05 44,31 47,55

c. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (2+2)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 4,683 9,042 12,41 13,99 16,48 18,28 20,69 23,57
Jagung 18,39 22,08 29,71 32,02 35,45 39 42,39 44,34

d. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (3+3)

Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 5,038 8,316 12,79 15,83 17,09 19,42 23,54 23,75
Jagung 12,29 19,56 28,56 31,75 35,23 36,07 40,1 42,72

e. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (1+1)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 5,417 10,4 13,71 16,01 18,46 20,48 22,87 22,28
Kacang Tunggak 13 15,42 17,2 19,04 19,6 20,78 23,29 25,05
f. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (2+2)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 5,45 9,942 12,57 14,67 16,91 18,2 20,41 21,8
Kacang Tunggak 12,58 15,53 17,18 18,32 19,42 20,48 23,26 25,79

g. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (3+3)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 5,45 9,942 12,57 14,67 16,91 18,2 20,41 18,72
Kacang Tunggak 12,58 15,53 17,18 18,32 19,42 20,48 23,26 25,79

2. Jumlah Daun
a. Monokultur Kacang Tanah
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Monokultur 2 12,17 17,88 21,33 24,04 27,46 31,54 35,38 25,06
Monokultur 4 8 15,08 19,08 22,25 23,58 25,33 28,13 30,42
Monokultur 6 8 13,33 17,17 21,67 23,39 25,67 29,06 30,06

b. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (1+1)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 8 13 18 21,5 25,33 27 30,17 32,5
Jagung 1,8333 2,417 3,083 3,833 4,667 5,167 5,417 5,333

c. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (2+2)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 7,833 13,33 17,08 20,33 22,33 25,67 27,17 28,67
Jagung 1,833 2,667 3 3,417 4,292 4,333 5,1 5,083

d. Polikultur Kacang Tanah-Jagung (3+3)

Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 7,5 12,08 15,08 21,68 22,32 24,88 27,93 28,88
Jagung 1,833 2,35 3,083 3,517 4,05 4,167 4,333 4,267

e. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (1+1)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 8,75 12,67 15,17 19,83 20 22,67 25 27
Kacang Tunggak 1,5 3,333 4,333 5,167 6,5 8,167 8,5 8,833

f. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (2+2)

Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 8,167 12,33 15,42 17,75 20,83 22,83 24,17 26,33
Kacang Tunggak 1,833 3,583 4,583 6,083 6,667 7,5 8,667 9

g. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak (3+3)
Perlakuan Hari Pengamatan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8
Kacang Tanah 7,167 11,08 13,92 17,63 18,89 20,55 22,43 24,27
Kacang Tunggak 1,833 3,5 4,5 5,167 6,217 7,05 7,667 8,333

3. Berat Segar-Berat Kering
a. Monokultur Kacang Tanah

Perlakuan Berat Segar Berat Kering
Monokultur 2 7,3808 2,15
Monokultur 4 20,822 3,6417
Monokultur 6 31,682 5,1117

b. Polikultur Kacang Tanah-Jagung
Perlakuan Berat Segar Berat Kering
Polikultur 1+1 12,893 1,54415
Polikultur 2+2 15,92 2,8875
Polikultur 3+3 25,055 3,4267

c. Polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak
Perlakuan Berat Segar Berat kering
Polikultur 1+1 11,055 1,6683
Polikultur 2+2 19,405 2,7033
Polikultur 3+3 27,848 3,866

V. PEMBAHASAN

Praktikum Dasar-Dasar Ekologi Acara 2 yang berjudul Kompetisi Inter dan Intra Spesifik Sebagai Faktor Pembatas Abiotik bertujuan untuk mengetahui faktor biotik terhadap pertumbuhan tanaman dan mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi inter dan intra spesifik. Pada dasarnya kompetisi terbagi 2, yaitu kompetisi inter spesifik dan kompetisi intra spesifik. Kompetisi inter spesifik yaitu persaingan yang terjadi diantara 2 individu atau lebih dalam spesies yang berbeda. Kompetisi intra spesifik yaitu persaingan yang terjadi pada 2 individu atau lebih dalam spesies yang sama.
Jenis-jenis kompetisi berupa ruang tumbuh, CO2, cahaya matahari sebagai energi gerak fotosintesis, nutrisi atau materi, unsur, dan air. Untuk mempertahankan kelangsungan kelangsungan hidup suatu organisme, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan misalnya saja dalam mendapatkan bahan makanan maka mereka harus berkompetisi. Hal tersebut disebabkan jumlah yang tersedia terbatas sedangkan dalam keadaan bersama-sama membutuhkan. Banyak hal yang mempengaruhi terjadinya kompetisi, antara lain kehadiran suatu individu atau kelompok tanaman lain sehingga mengganggu tanaman tersebut untuk memperoleh bahan makanan dan jumlah faktor pertumbuhan yang tersedia.
Kompetisi dapat dibuktikan dengan percobaan kepadatan tanaman pada suatu luas lahan tertentu. Tekanan kompetisi pada jarak tertentu relatif konstan, karena tanaman dapat mempunyai sifat penyesuaian. Tanaman tumbuh dengan baik pada jarak tanam lebar dan akan buruk pada jarak tanam sempit, sehingga tekanan kompetisi akan relatif konstan. Dalam lahan yang hanya terdapat sedikit tanaman. Maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih subur, karena antara individu satu dengan yang lain tidak terjadi persaingan yang ketat. Semakin banyak tanaman dalam lahan, maka antar satu individu dengan individu lain akan saling bersaing ketat untuk memperoleh unsur pertumbuhan. Apabila unsur pertumbuhan ini belum terpenuhi secara optimal, maka bisa saja pertumbuhan tanaman akan terhambat.
Berdasarkan teori, pertumbuhan polikultur lebih bagus dibandingkan dengan monokultur, contohnya jika ditinjau dari pengambilan unsur hara maka tidak terjadi persaingan antar tanaman pada polikultur. Hal ini karena ada perbedaan panjang akar. Pada monokultur terjadi persaingan karena panjang akar relatif sama, sehingga terjadi kompetisi pada pengambilan unsur hara atau unsur lain dalam tanah. Komposisi dalam pertumbuhan tanaman sangat mempengaruhi hasil produksi dan pertumbuhan. Dalam acara ini, kompetisi yang terjadi adalah persaingan memperoleh nutrisi, air, dan ruang lingkup.

1. Grafik Tinggi Tanaman
a. Monokultur Tanaman Kacang Tanah

Berdasarkan grafik tinggi tanaman monokultur kacang tanah, pada hari pertama pengamatan, tanaman kacang tanah monokultur 2 memiliki tinggi tanaman tertinggi. Namun, pada hari terakhir pengamatan, yaitu hari kedelapan, tanaman kacang tanah monokultur 2 memiliki tinggi tanaman terendah. Tanaman dengan tinggi tertinggi ditempati oleh tanaman kacang tanah monokultur 6. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kompetisi akan mempengaruhi tinggi tanaman. Kedelai monokultur 6 memiliki tingkat kompetisi yang tinggi, sehingga tinggi tanaman paling tinggi, karena terjadi perebutan cahaya matahari antar tanaman.

b. Polikultur Tanaman Kacang Tanah-Jagung

Berdasarkan grafik tinggi tanaman polikultur kacang tanah dan jagung, pada hari pertama dan terakhir pengamatan, tanaman polikultur 1+1 memiliki tinggi tanaman tertinggi. Tanaman polikultur kacang tanah dan jagung 3+3 memiliki tinggi tanaman terendah pada hari pertama dan terakhir pengamatan. Kompetisi interspesifik antara kacang tanah dengan jagung menyebabkan perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman. Pertumbuhan tanaman mengalami hambatan karena unsur hara yang dibutuhkan dimanfaatkan oleh tanaman lain. Selain itu, salah satu tanaman memiliki perakaran yang cukup panjang dibandingkan dengan tanaman lain sehingga tanaman lain mengalami kesulitan dalam mencari air dan unsur hara esensial.

c. Polikultur Tanaman Kacang Tanah-Kacang Tunggak

Berdasarkan grafik tinggi tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak, pada hari pertama pengamatan, tanaman polikultur 3+3 memiliki tinggi tanaman tertinggi, sedangkan tanaman polikultur 1+1 memiliki tinggi tanaman tertinggi kedua. Namun, pada hari terakhir pengamatan, tanaman polikultur 1+1 memiliki tinggi tanaman tertinggi, sedangkan tanaman polikultur 3+3 memiliki tinggi tanaman tertinggi kedua. Tanaman polikultur kacang tanah dan jagung 2+2 memiliki tinggi tanaman terendah pada hari pertama dan terakhir pengamatan. Kompetisi yang terjadi dalam tanaman kacang tanah dan jagung ini termasuk inter-spesifik yang saling memperebutkan unsur hara dan air dalam tanah, sehingga menyebabkan perbedaan tinggi tanaman, dimana tanah yang ditanami tanaman paling sedikit memiliki tinggi tanaman tertinggi.

d. Gabungan Tinggi Tanaman

Berdasarkan grafik tinggi tanaman gabungan, pada hari pertama pengamatan dapat terlihat bahwa urutan tinggi tanaman dari yang tertinggi adalah polikultur kacang tanah tanah dan jagung 1+1, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 2+2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 3+3, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 3+3, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 1+1, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 2+2, monokultur kacang tanah 2, monokultur kacang tanah 4, dan monokultur kacang tanah 6. Pada hari terakhir pengamatan, tinggi tanaman dari yang tertinggi adalah polikultur kacang tanah tanah dan jagung 1+1, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 2+2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 3+3, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 1+1, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak , 3+3, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 2+2, monokultur 6, monokultur 2, dan monokultur 4. Dapat diketahui bahwa tanaman polikultur kacang tanah dan jagung memiliki tinggi tanaman tertinggi, tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak memiliki tinggi tanaman tertinggi kedua, sedangkan tanaman monokultur kacang tanah memiliki tinggi tanaman terendah. Hal tersebut terjadi sesuai dengan teori, bahwa pertumbuhan tanaman polikultur lebih bagus dibandingkan dengan tanaman monokultur.

2. Grafik Jumlah Daun
a. Monokultur Tanaman Kacang Tanah

Berdasarkan grafik tinggi tanaman monokultur kacang tanah, hal ini menunjukan kompetisi intra-spesifik, yaitu persaingan yang terjadi antara dua individu atau lebih dalam spesies yang sama. Pada hari pertama dan terakhir pengamatan, jumlah daun terbanyak dimiliki oleh tanaman kacang tanah monokultur 2. Tanaman kacang tanah monokultur 4 dan 6 memiliki jumlah daun yang sama pada hari pertama pengamatan, tetapi pada hari terakhir pengamatan jumlah daun tanaman kacang tanah monokultur 4 lebih banyak dibandingkan jumlah daun tanaman kacang tanah monokultur 6. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa jika dalam suatu tanah dengan ukuran yang sama ditanami dengan 1 jenis tanaman dengan jumlah yang berbeda, maka tanah dengan jumlah tanaman paling sedikit yang menghasilkan pertumbuhan tanaman paling baik.

b. Polikultur Kacang Tanah – Jagung

Berdasarkan grafik tinggi tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak, hal ini menunjukan kompetisi inter-spesifik, yaitu persaingan yang terjadi antara dua individu atau lebih dalam spesies yang berbeda. Pada hari pertama dan terakhir pengamatan, urutan jumlah daun terbanyak polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak adalah tanaman polikultur 1+1, tanaman polikultur 2+2, dan tanaman polikultur 3+3. Perbedaan tinggi tanaman tersebut diakibatkan oleh perbedaan jumlah tanaman dalam tanah. Tanah yang ditanami tanaman paling sedikit, memiliki jumlah daun yang paling banyak. Hal tersebut dikarenakan persaingan dalam mendapatkan air dan hara dalam tanah relatif lebih ringan.

c. Polikultur Kacang Tanah – Kacang Tunggak

Berdasarkan grafik tinggi tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak, hal ini menunjukan kompetisi inter-spesifik, yaitu persaingan yang terjadi antara dua individu atau lebih dalam spesies yang berbeda. Pada hari pertama dan terakhir pengamatan, urutan jumlah daun terbanyak polikultur Kacang Tanah-Kacang Tunggak adalah tanaman polikultur 1+1, tanaman polikultur 2+2, dan tanaman polikultur 3+3. Perbedaan tinggi tanaman tersebut diakibatkan oleh perbedaan jumlah tanaman dalam tanah. Tanah yang ditanami tanaman paling sedikit, memiliki jumlah daun yang paling banyak, karena persaingan dalam mendapatkan air dan hara dalam tanah relatif lebih ringan.

d. Gabungan Jumlah Daun

Berdasarkan grafik tinggi tanaman gabungan, pada hari pertama pengamatan dapat terlihat bahwa urutan tinggi tanaman dari yang tertinggi adalah monokultur kacang tanah 2, monokultur kacang tanah 4 dan monokultur kacang tanah 6, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 1+1, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 2+2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 1+1, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 2+2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 3+3, dan polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 3+3. Pada hari terakhir pengamatan, tinggi tanaman dari yang tertinggi adalah monokultur 4, monokultur 6, monokultur 2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 1+1, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 1+1, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 2+2, polikultur kacang tanah tanah dan jagung 2+2, polikultur kacang tanah dan jagung 3+3, polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 3+3. Dapat diketahui bahwa tanaman monokultur kacang tanah memiliki tinggi tanaman tertinggi. Hal tersebut dikarenakan adanya kompetisi antar tanaman untuk memperebutkan sinar matahari.

3. Histogram Berat Segar dan Berat Kering
a. Monokultur Kacang Tanah

Berdasarkan histogram Berat Segar-Berat Kering Monokultur Kacang Tanah diperoleh hasil bahwa berat segar dan berat kering tertinggi terdapat pada tanaman monokultur kacang tanah dengan perlakuan 3+3. Sedangkan berat segar dan berat kering terendah terdapat pada tanaman monokultur kacang tanah dengan perlakuan 1+1. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena berat basah dan berat kering maksimum akan diperoleh pada tanaman yang mendapat unsur hara yang baik yaitu pada tanaman yang jumlah kompetisinya paling sedikit. Jadi seharusnya, tanaman yang paling tinggi histogram monokulktur kacang tanah adalah pada monokultur 2. Kesalahan ini dapat terjadi karena beberapa faktor misalnya adalah kesalahan teknis yang berhubungan dengan pengukuran.

b. Polikultur Kacang Tanah-Jagung

Berdasarkan histogram Berat Segar-Berat Kering Polikultur Kacang Tanah dan Jagung dapat dilihat bahwa berat segar dan berat kering yang paling tinggi adalah pada tanaman polikultur kacang tanah dan jagung 3+3, sedangkan yang paling rendah adalah polikultur kedelai-kacang tanah 1+1. Hasil percobaan ini sudah sesuai dengan teori, yaitu tanaman yang kandungan air dan kandungan hasil fotosintesis yang ada lebih banyak maka berat segar dan berat keringnya juga tinggi. Hal itu juga disebabkan karena populasi tanaman polikultur kacang tanah dan jagung lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang lainnya.

c. Polikultur Kacang Tanah dan Kacang Tunggak

Berdasarkan histogram Berat Segar-Berat Kering Polikultur Kacang Tanah-Jagung dapat dilihat bahwa berat segar dan berat kering yang paling tinggi adalah pada tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 3+3, sedangkan yang paling rendah adalah polikultur kacang tanah dan kacang tunggak 1+1. Hasil percobaan ini sudah sesuai dengan teori, yaitu tanaman yang kandungan air dan kandungan hasil fotosintesis yang ada lebih banyak maka berat segar dan berat keringnya juga tinggi. Hal itu juga disebabkan karena populasi tanaman polikultur kacang tanah dan kacang tunggak lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang lainnya.

VI. KESIMPULAN

1. Faktor biotik sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dalam hal ini tanaman lain yang sejenis (intra-spesifik) dan tidak sejenis (inter-spesifik) adalah sebagai faktor biotik.
2. Koofisien penggunaan cahaya matahari, air, maupun unsur hara yang terkandung dalam tanah berpengaruh terhadap produktifitas tanaman kedelai (Glycine max), jagung (Zea mays), kacang tanah (Arachis hypogaea). Pertumbuhan tanaman polikultur lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman monokultur. Pertumbuhan tanaman pada suatu lahan dengan sedikit tanaman lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman pada suatu lahan dengan banyak tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Budi, G.P. dan O.D. Hajoenitijas. 2009. Kemampuan kompetisi beberapa varietas kedelai (Glicyne max) terhadap gulma alang-alang (Imperata cylindrica) dan teki (Cyperus rotundus). Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah 7: 127-129.

Clapham, W.B.. 1973. Natural Ecosystem. Mc.Millan Publishing, Inc, New York.

Elfidasari, D. 2007. Jenis interaksi intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat mencari makan di sekitar cagar alam Pulau Serang Dua, Provinsi Banten. Jurnal Biodiversitas 8: 266-269.

Evans, S.P., Z. Knezevic, J.L. Lindquist, C.A. Shapiro, E.E. Blankership. 2004. Nitrogen application influences the critical period for weed control in corn. Weed Science 51: 408-417

Odum, E.P. 1983. Basic Ecology. CBS College Publishing, United States of America.

Soejono, A.T. 2009. Ilmu Gulma. . Diakses pada tanggal 26 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2011 in Dasar-dasar Ekologi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: